AKU PERCAYA
Bahwa Tuhan akan selalu berada di sisiku
Dia akan selalu menerangi jalanku
KasihNya akan selalu membimbingku
Hanya Dia yang Maha Baik
Bahkan di saat-saat aku menjauhiNya,
Dia pasti akan selalu memanggilku kembali
Maka aku datang kepadaMu
Sekali lagi
Bersimpuh dan mengungkapkan rasa cintaku padaMu
Perasaan yang meluap dari dalam hati ini
Sungguh tak tergambarkan
Dan aku semakin yakin kalau Kaulah memang yang terbaik untukku
Izinkan aku untuk selalu berada dalam kasihMu
Izinkan juga orang tuaku, keluargaku, anak cucu dan keturunanku,
juga semua orang terkasihku,
hingga akhir zaman nanti selalu berada dalam kasihMu
AMMIIN YA RABBAL ‘AALAMIIN
Rindu Tak Terperi
Tak pernah kusadari sebelumnya,
Betapa dalam rasa cinta ini,
Sampai kudengar seseorang memuji namamu,
Betapa bergetar hati ini
Terasa rindu yang begitu dalam,
Hampir tumpah air mata ini,
Betapa penih hati ini akan kasihmu,
O wahai Rasulku,
Wahai pemimpinku,
Wahai yang terkasih,
Akankah aku yang hina ini dapat berjumpa denganmu?
Akankah aku yang tiada arti ini mendapatkan mendapatkan syafaatmu?
Mungkinkah rasa cintaku ini cukup untuk membawaku kepadamu?
Sungguh rindu yang yang tak terbendung
O wahai yang terkasih,
Semoga Allah berkenan menyampaikan rasa ini kepadamu…
*terinspirasi lagu Salam ‘Alayka oleh Maher Zain
Trying to be IKHLAS is DEFFINITELY NOT a Kodak Momment!
Untuk mengikhlaskan sesuatu memang benar-benar cobaan lahir batin. Saya jamin, pasti rasa sedih itu akan muncul. Penyesalan diri kenapa semuanya itu harus terjadi, mungkin ada juga yang malah menyalahkan diri.
Memang sih, teorinya, kalau kita bisa melepaskan sesuatu yang sangat kita inginkan, pasti Tuhan akan memberikan gantinya yang nilainya itu bisa berkali-kali lipat.
TEORINYA MEMANG BEGITU! Rasanya mudah sekali waktu diucapkan di mulut. Tapi begitu menjalankannya, waduh! Ampun, rasanya nggak kuat. Pingin nangis meraung-raung menyesali nasib sambil berkata, “WHY MEE~…?”
kalau mau jujur nih, sudah hampir dua minggu ini, cobaan soal ikhlas ini rasanya datang bertubi-tubi. Seolah Tuhan bilang, “masih belum cukup, ditambah lagi kadarnya. Eh, ternyata masih belum juga, ditambah lagi yaa.” Bentuknya pun macam-macam; dari mulai mengikhlaskan diri menerima kritikan orang yang rasanya cuma sepihak, sampai lepasnya suatu rejeki dari genggaman tangan.
Hati ini sudah benar-benar tidak karuan rasanya. Sudah berusaha jalan-jalan, sampai ke luar kota segala, untuk menghilangkan rasa suntuk ini, ternyata masih kurang juga. Mungkin memang satu-satunya jalan benar-benar merelakan segalanya terjadi. Menerima semuanya, akan keadaan diri saya (juga mungkin keadaan teman-teman yang membaca tulisan ini). Termasuk menerima kritikan orang-orang itu, benar atau salah jadikan semuanya itu masukan dan titik balik keadaan supaya menjadi lebih baik lagi. Juga lepasnya rejeki dari genggaman, dengan keyakinan pasti akan datang rejeki lainnya, yang lebih baik lagi.
Dan hanya satu yang kuminta padaMu, ya Rabb, tolong bimbinglah hamba dalam menjalani ini semua. AMIN.
Every New Semester:
After First Week:
After Second Week:
Before the Mid-Term Test:
During the Mid-Term Test:
After the Mid-Term Test:
Before the Final Exams:
Once Get to Know the Final Exam Schedule:
7 Days Before the Final Exam:
5 Days Before the Final Exam:
4 Days Before the Final Exam:
3 Days Before the Final Exam:
2 Days Before the Final Exam:
1 Day Before the Final Exam:
The Night Before the Final Exam:
1 Hour Before the Final Exam:
During the Final Exam:
Once Walk Out From the Examination Hall:
After the Final Exam, During the Holiday:
AAAHHH… those happy days :D




















